Home / Berita / Kegiatan Malam Tirakatan Hari Jadi Ngawi Yang Ke 659

Kegiatan Malam Tirakatan Hari Jadi Ngawi Yang Ke 659

Malam Tirakatan Hari Jadi Ngawi yang Ke – 659 Desa Wonokerto Kecamatan Kedunggalar Tanggal 07 Juli 2017 bertempat di balai desa Wonokerto. Dengan dihadiri Seluruh Perangkat Desa , BPD dan Tokoh Masyarakat acara di mulai pukul 19.00 WIB. Selaku pembawa acara yaitu Ni’matur Rosyidah Adapun susunan Acara sebagai berikut

  1. Pembukaan
  2. Pembacaan Sejarah Singkat Hari Jadi Ngawi
  3. Sambutan Kepala Desa
  4. Tahlil dan Do’a
  5. Potong Tumpeng
  6. Penutup

Acara demi acara berlangsung hikmad. Berikut Sejarah Singkat Kabupaten Ngawi

 

 

SUSUNAN ACARA MALAM TIRAKATAN

DALAM RANGKA HARI JADI KABUPATEN NGAWI KE 659 TAHUN 2017

 

  1. PEMBUKAAN
  2. PEMBACAAN SEJARAH SINGKAT HARI JADI NGAWI OLEH KETUA BADAN PERMUSYAWARATAN DESA (BPD)
  3. SAMBUTAN KEPALA DESA
  4. TAHLIL DAN DO’A
  5. POTONG TUMPENG
  6. PENUTUP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH SINGKAT HARI JADI KABUPATEN NGAWI

 

Nama NGAWI berasal dari “AWI” atau “BAMBU” yang selanjutnya mendapat tambahan huruf sengau “NG” menjadi “NGAWI”. Apabila diperhatikan, di Indonesia khususnya Jawa, banyak sekali nama-nama tempat (desa) yang dikaitkan dengan flora, seperti : Ciawi, Waringin Pitu, Pelem, Pakis, Manggis dan lain-lain.

 

Demikian pula halnya dengan NGAWI yang berasal dari “awi” menunjukkan suatu tempat yaitu sekitar pinggir ”Bengawan Solo” dan ”Bengawan Madiun” yang banyak tumbuh pohon “AWI”.

 

Tumbuhan “AWI” atau “BAMBU” mempunyai arti yang sangat bernilai, yaitu :

1. Dalam kehidupan sehari-hari Bambu bagi masyarakat desa mempunyai peranan penting apalagi dalam masa pembangunan ini
2. Dalam Agama Budha , hutan bambu merupakan tempat suci
3. Pohon Bambu dalam Karya Sastra yang indah juga mampu menimbulkan inspirasi pengandaian yang menggetarkan jiwa
4. ”AWI” atau ”BAMBU” dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia mempunyai nilai sejarah, yaitu dalam bentuk ”bambu runcing” yang menjadi salah satu senjata untuk melawan dan mengusir penjajah.

 

Dengan demikian jelaslah bahwa ”NGAWI” berasal dari ”AWI” atau ”BAMBU”, Sekaligus menunjukkan lokasi Ngawi sebagai ”desa” di pinggir Bengawan Solo dan Bengawan Madiun.

 

 

 

 

 

 

 

Penelitian terhadap peninggalan benda-benda kuno dan dokumen sejarah menunjukkan beberapa status Ngawi dalam perjalanan sejarahnya :

  1. Ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman Pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358 Masehi, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280)
  2. Ngawi sebagai Daerah Narawita Sultan Yogyakarta dengan Palungguh Bupati –    Wedono Monconegoro Wetan, tepatnya tanggal 10 Nopember 1828 M (tersebut dalam surat Piagam Sultan Hamengkubuwono V tertanggal 2 Jumadil awal 1756 AJ).
  3. Ngawi sebagai Onder-Regentschap yang dikepalai oleh Onder Regent (Bupati       Anom) Raden Ngabehi Sumodigdo, tepatnya tertanggal 31 Agustus 1830 M.
  4. Ngawi sebagai regentschap yang dikepalai oleh Regent Atau Bupati Raden Adipati Kertonegoro pada tahun 1834 masehi.

 

Dari penelusuran 4 (empat) status Ngawi di atas, Prasati Canggu yang merupakan sumber data tertua, digunakan sebagai penetapan hari jadi ngawi, yaitu pada tahun 1280 Saka atau pada tanggal 8 hari Sabtu Legi Bulan Rajab Tahun 1280 Saka, tepatnya pada tanggal 7 Juli 1358 Masehi (berdasarkan perhitungan menurut Lc. Damais) dengan status ngawi sebagai Daerah Swatantra dan Naditira Pradesa.

 

Sesuai dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ngawi dalam Surat Keputusannya Nomor 188.170/34/1986 tanggal 31 Desember 1986 tentang Persetujuan Terhadap Usulan Penetapan Hari Jadi Ngawi maka berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ngawi Nomor 04 Tahun 1987 tanggal 14 Januari 1987, Tanggal 7 Juli 1358 Masehi Ditetapkan Sebagai ”Hari Jadi Ngawi”